Riset Operasi dan Dunia Perkeretaan

logoka_cireksKereta api di Indonesia, tidak dapat disangkal, masih menjadi sarana transportasi massal dengan harga terjangkau. Namun juga tidak dapat disangkal, kereta api belumlah menjadi sarana transportasi yang aman, nyaman dan terpercaya. Terlalu banyak faktor yang mempengaruhinya.

Sebenarnya pada kondisi seperti itulah, Riset Operasi dapat memainkan peran yang amat vital guna meminimalkan pengaruh negatif yang ditimbulkan oleh faktor-faktor tersebut. Tentu saja faktor non-teknis, yang menjadi domain sang pengambil keputusan, merupakan perkecualian.

Salah satu hal yang paling dikeluhkan oleh masyarakat terhadap layanan kereta api di Indonesia adalah mengenai masalah ketepatan waktu. Masalah yang dikritisi oleh Iwan Fals dalam lagunya berjudul Kereta Tiba Pukul Berapa, bisa jadi merupakan penyebab utama dari beberapa kecelakaan kereta api yang terjadi. Menilik faktor-faktor penyebab kecelakaan kereta api di tahun 2008 yang dirilis dalam situs resmi [1], Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Departemen Perhubungan RI, boleh dikata bahwa keterlambatan kereta dapat digolongkan sebagai faktor implisit.

grafik-kecelakaan-2008

Meski demikian, faktor ketepatan waktu tetaplah memainkan peranan penting. Keterlambatan sebuah kereta akan sedikit banyak mengganggu jadwal kereta lain. Apalagi bila kereta yang terlambat itu memiliki prioritas tinggi untuk didahulukan. Belum lagi dengan keluhan para penumpang atau penjemput yang terganggu aktivitasnya. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, atau negara berkembang lainnya, melainkan juga di negara maju. Belum lagi bila lalu lintas perkeretaapiannya sangat tinggi dan kompleks. Dalam hal ini, upaya pengoptimalan jadwal kereta api sudah menjadi suatu keharusan. Bahkan tidak mungkin, jadwal yang optimal mampu mendongkrak pemasukan bagi perusahaan pengelola kereta api.

Fenomena inilah yang dialami oleh the Netherlands Railways (Nederlandse Spoorwegen – NS) yang mengelola dunia perkeretaan di Belanda [2, 3]. Mereka terakhir melakukan perombakan daftar penjadwalan (timetable) besar-besaran di tahun 1970. Padahal sejak saat itu, jumlah penumpang telah melonjak hampir dua kali lipat menjadi 15.8 milyar penumpang di tahun 2006. Rata-rata 1.1 juta orang bepergian dengan kereta pada hari kerja. Transportasi muatan naik pula sebesar 285%. Untuk mengatasinya, NS melakukan penjadwalan lebih banyak kereta dan lebih besar tanpa mengubah struktur dasar dari timetable, yang menyebabkan sistem overload dan menjadikannya mimpi buruk bagi pengguna jasa layanan kereta. Padahal infrastruktur hanya berkembang sedikit saja sejak Perang Dunia II.

Satu-satunya jalan adalah mengembangkan sebuah timetable baru yang bisa mengakomodasi beberapa tujuan, termasuk peningkatan koneksi dengan negara tetangga, Jerman dan Belgia. Untuk konstruksi timetable yang baru, mula-mula line system didefinisikan. Kemudian menghitung timetable, termasuk rute-rute detail melalui stasiun-stasiun. Dan akhirnya menentukan rolling stock schedule dan crew schedule. Lengkapnya dapat dilihat di [3].

Dengan mengandalkan jadwal yang optimal, di tahun 2007, persentase tingkat kedatangan kereta dalam kurun waktu 3 menit, meningkat dari 84.8% di tahun sebelumnya menjadi 87.0%. Jumlah penumpang pun meningkat sebesar 2% pada semester pertama tahun 2007. Akibatnya tentu saja, keuntungan tahunan bertambah 40 juta Euro. Selain itu, kepadatan populasi di jalan raya dan polusi yang dihasilkannya juga berkurang. Fenomena yang menakjubkan ini pula yang mengantarkan para peneliti sebagai pemenang pertama Edelman Award tahun 2008 dan berhak atas hadiah senilai $10,000 (berita lengkap di sini).

Kesuksesan ini tidak terlepas dari kerja sama yang baik antara pihak NS dan universitas. Keterlibatan pegawai NS dalam tim peneliti, memudahkan perolehan data dan pengetahuan mengenai kondisi di lapangan. Sementara pihak manajemen NS memberi dukungan dalam bentuk tantangan kepada para pakar Riset Operasi guna memberi solusi yang memuaskan dan dalam bentuk investasi ke dalam proyek ini tanpa jaminan bahwa proyek akan berakhir dengan sukses [3].

Sementara Canadian Pacific Railway (CPR) menggunakan Riset Operasi untuk menyempurnakan penjadwalan jalur kereta barang yang dikelolanya [4, 5]. Awalnya, CPR secara tradisional menerapkan kebijakan di mana kereta baru berangkat apabila sudah memiliki cukup muatan. Untuk mengurangi jumlah kereta yang terpaksa dibatalkan atau ditunda karena kekurangan muatan, CPR berusaha meminimalkan jumlah total kereta yang dioperasikan dengan memaksimalkan ukurannya. Secara teori, hal ini berarti meminimalkan crew costs dan memaksimalkan track capacity.

Kebijakan ini mengandung beberapa kelemahan. Kelemahan yang terutama adalah menyangkut tingkat kepuasan para pemakai jasa. CPR kemudian mengembangkan MultiModal Applied Systems dalam menyusun penjadwalan jalur kereta. Sistem tersebut menggunakan beberapa pendekatan Riset Operasi, seperti an optimal block-sequencing algorithm, a heuristic algorithm for block design, (very fast) simulation, dan time-space network algorithms dalam perencanaan penggunaan lokomotif dan pendistribusian mobil-mobil kosong. Lengkapnya silahkan disimak di [5]. Dampak implentasinya adalah penghematan Can$300 juta (US$170 juta) dari pertengahan 1999 hingga musim gugur 2000. Diperkirakan pula tambahan penghematan sebesar Can$210 juta selama 2001 dan 2002 hanya semata untuk biaya bahan bakar dan pekerja. CPR kini mampu menyediakan kepada pelanggannya waktu pengantaran yang realistis. Dengan peningkatan pelayanan ini, CPR beroleh beragam penghargaan, termasuk berhasil menghantarkan para penelitinya menjadi juara pertama Edelman Award tahun 2003 !

Sebetulnya masih banyak lagi effort yang telah dilakukan oleh para peneliti di dunia ini yang berkaitan dengan issue di dunia perkeretaan, termasuk bagaimana memanajemen keterlambatan (delay management problem). Permasalahan yang termasuk kategori NP-hard ini, dibahas dalam buku berjudul Optimization in Public Transportation. Sementara effort yang telah dilakukan di Indonesia dapat dilihat, antara lain, di [6-10]. Namun sampai di manakah aplikasinya ? Akankah Riset Operasi diberi ruang gerak pula di dalam dunia perkeretaapian Indonesia ?

 

Sumber:

1. http://perkeretaapian.dephub.go.id
2. http://www.informs.org/article.php?id=1374&p=1| 
3. Kroon et.al., The New Dutch Timetable: The OR Revolution, Interfaces, 39(1):6-17 (pdf)
4. http://www.orchampions.org/prove/success_stories/psrcpr.htm
5. Ireland et.al., The Canadian Pacific Railway Transforms Operations by Using Models to Develop Its Operating Plans, Interfaces, 34(1):5-14 (pdf)
6. Marjati, Studi Pengembangan Model Penjadwalan Perjalanan Kereta Api dengan Studi Kasus Bandung-Jakarta, Master Thesis, ITB, 1994
7. Budiono, I., Simulation for Train Scheduling System, Undergraduate Thesis, UKP, 2003 (http)
8. Dewi, A.W.S., Optimasi Penentuan Jadwal Perjalanan dan Kapasitas Kereta Api Komuter Jalur Bandung-Jatinangor, Undergraduate Thesis, ITB, 2005
9. Perangin-angin, R.F.P., Optimasi Kapasitas Angkut Rangkaian Kereta Api Penumpang Ekspres Jakarta-Bandung, Undergraduate Thesis, ITB, 2005
10. Yuliawan, F., Implementasi Model Penjadwalan Job-Shop dalam Masalah Penjadwalan Kereta Api Jalur Tunggal dengan Pendekatan Constraint Programming, Undergraduate Thesis, ITB, 2008 (pdf)

One comment on “Riset Operasi dan Dunia Perkeretaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s